Musica Dei Donum Optimi, Orlandus Lassus (1532-94). Sahut-sahutan Sopran, Alto dan Tenor membuka konser ITB Choir tahun ini dengan sangat manis. Pemilihan lagu yang sangat pintar. Lagu pembuka yang sangat brilian. Sekalipun yang menyanyikan lagu ini adalah hanya kelompok kecilnya saja (kelompok Madrigal) tetapi suara-suara yang diproduksi seluruh penyanyi berhasil memenuhi ruangan. Tidak hanya berhenti sampai di situ, suara tersebut berhasil membuai hati para penonton untuk terbuai termangu terdiam mendengarkan komposisi ini. Dengarkan dengan lebih seksama, maka akan terdengar overtone yang merupakan produksi suara tambahan dari campuran masing-masing suara. Tidak banyak paduan suara di Indonesia yang mampu memproduksi kecemerlangan berpadu suara seperti ini. Tidak dapat diragukan lagi, ITB Choir sudah jauh sangat berkembang. Paduan suara ini patut diacungi jempol atas perjuangannya. Alhasil, paduan suara ini terhitung paduan suara kelas atas di Indonesia.
Sayangnya kepiawaian paduan suara ini pada lagu pertama tidak diteruskan ke lagu selanjutnya. Faute d’Argent. Selain banyaknya keraguan dibeberapa titik, kualitas vokal pun tiba-tiba menurun. Lagu gubahan Josquin des Prez ini pun seperti luput dari penampilan yang mengesankan. Lagu ini berlalu begitu saja. Kelincahan yang merupakan kekuatan dari lagu ini sama sekali tidak nampak. Tempo yang dimainkan memang agak lambat tetapi bukan berarti kelincahan tersebut hilang. Yang terdengar adalah lagu ini menjadi sangat berat dan seperti terseret-seret. Bisa jadi. Mungkin lagu ini kurang digarap selama masa latihan.
Namun kekecewaan terhadap Madrigal terbalaskan dengan lagu Ihr Musici, Frisch auf! Kelincahan itu muncul. Jenis suara yang sama. Seluruh penyanyi yang sama. Dengan penuh keyakinan paduan suara ini mampu menyampaikan pesan Hans Leo Hassler (1564-1612) bagi seluruh insan musik dunia untuk kembali berkarya demi keindahan musik itu sendiri. Sang dirijen membungkuk memberi hormat. Mukanya garang penuh misteri. Seakan-akan dia berkata: “ini belum semua, masih banyak lagi”. Bravo!
Penyanyi-penyanyi yang lain berdatangan dari balik tirai. Satu-persatu menaiki panggung sampai akhirnya formasi penuh terbentuk di atas panggung. Seluruh penyanyi membuka buku partitur mereka seraya sang dirijen membuka tangan. Dari Madrigal PS ini beralih ke karya-karya Romantik. Brahms dan Mendelsson menjadi sasaran utama. Abendständchen (Evening Serenade) membuka karya-karya Romantik di konser kali ini. Ada mitos yang mengatakan, karya-karya pada zaman ini merupakan tantangan yang paling berat untuk dinyanyikan dibanding zaman-zaman yang lain. Terbukti. Tidak banyak PS yang mampu menangani lagu ini dengan baik. Secara musikal ITB Choir memang mampu menangani lagu ini, namun secara teknik, suara yang diproduksi PS ini terlalu terang. Untuk pribadi-pribadi pencinta Stutgart Kammerkoor, bisa saja, bukannya senang dengan penampilan ITB Choir malam itu, melainkan mengernyitkan dahi dan akhirnya mengambil kesimpulan: ITB Choir masih harus banyak belajar untuk musik-musik Romantik. Lagu ini secara musik memang tidak sulit, namun secara vokal, butuh waktu yang lama untuk menyanyikannya sesuai yang diinginkan.
Lagu kedua dari Johannes Brahms Darthulas Grabesgesang (Darthula’s Grave Song) sebenarnya mengalami nasib yang sama dengan lagu sebelumnya. Untung saja, komposisi dari lagu ini sangat romantik. Keseluruhan progress cord-nya membantu PS ini terdengar lebih romantik. Walaupun sebenarnya tetap saja, produksi suara dari penyanyi masih terlalu bright dan seolah-olah tidak menggambarkan suasana kelam dari lirik Johann Gottfried Herder (1744-1803).
Op. 59 Six lieder for mixed voices a cappella oleh Felix Mendelssohn, No.2 dan No.6 menutup sesi pertama konser ini. Fruhzeitiger Fruhling (Early Spring) dan Jaglied (Hunting Song) berhasil membalas kekecewaan penonton akan dua lagu sebelumnya. Kali ini ITB Choir menyanyikannya dengan sangat mantap. Penuh keyakinan. Kedua lagu ini membuktikan PS ITB memang patut diperhitungkan di PS kelas atas di Indonesia, bahkan PS amatir di dunia. Dengar saja, hampir seluruh detail dari lagu ini tertangani dengan baik. Tidak ada bagian yang terhilang dan tidak terdengar. Seluruh musik, pergerakan, dan kerapihan yang diinginkan dibuktikan dengan dada yang membusung oleh para penyanyi. Mereka berhasil mengalahkan kedua lagu ini.
Maka berakhirlah sesi pertama dan seluruh tamu serta undangan dipersilahkan beristirahat sejenak. Aku lebih memilih tinggal di dalam dan bercakap-cakap dengan alumni PSM ITB lainnya. Tentu saja gelak tawa tidak terhindarkan jika kelompok orang-orang tua itu sudah berkumpul. Kesusahan dunia nampaknya hilang sekejap jikalau sudah berkumpul. Sepertinya kami terhipnotis untuk berada di alam lain. Untuk sementara.
Sampai akhirnya suara MC, Diaz yang menuntun acara konser malam itu kembali terdengar. Ia memulai dengan salam, panggilan, pembacaan peraturan dan dilanjutkan dengan pembacaan lagu-lagu yang akan dinyanyikan di sesi kedua. Jelas sekali pada saat pembacaan lagu-lagu yang akan dinyanyikan terjadi kesalahan dari skenario yang diinginkan. Dari gesturnya terlihat kalau pembacaan judul yang pertama seharusnya merupakan tanda untuk masuknya para penyanyi. Apa yang terjadi? Semua orang nampak bertanya-tanya. Mereka belum siap untuk menyanyi. Mungkin mereka masih terbuai dengan tawa canda mereka dibalik panggung. Mungkin.
Apapun dugaannnya, terbukti! Mereka memang belum siap untuk bernyanyi. Apa yang terjadi. Felices Ter, lagu oleh Randall Thompson yang seharusnya menjadi salah satu lagu andalan untuk membuktikan kebolehan ITB Choir malah berbalik menjadi lagu kejatuhan. Sopran merusak semuanya. Mereka kembali kepada penyakit lama mereka. Sopran kembali bernyanyi dengan ceper dan seperti tercekik kecil dibagian leher. Hah?! Kaget setengah mati mendengarnya. Seluruh sesi pertama dihabiskan Sopran dengan sangat mempesona, kali ini mereka kembali ke teknik itu. Sangat disayangkan. Hal ini juga menular ke golongan suara lain. Membuat lagu ini seperti sedikit digarap. Bagian-bagian yang seharusnya tegas dan menjadi penanda lagu ini tidak terdengar sama sekali. Ah, nampaknya mereka hanya belum siap.
I Will Wade Out, till my thighs are steeped in burning flowers. Kekuatan lagu ini ada pada Sopran, Messo Sopran dan Alto kanonik di bagian awal. Pembuka lagu yang sangat brilian oleh Eric Whitacre. Sopran satu berhasil membuka lagu ini dengan baik, namun Messo Sopran dan Alto tidak berhasil mengimbangi kekuatan Sopran satu ini. Kanonik dari lagu ini gagal. Suara kanoniknya tidak terdengar. Satu atau dua baris di depan mungkin terdengar, tetapi suara itu tidak cukup kuat untuk sampai bahkan ke tengah ruangan saja. Untung saja Bass berhasil menyelamatkan lagu ini. Pada bagian selanjutnya dari lagu ini. Hampir 3 bagian dari lagu ini tidak jelas terdengar karena musik yang hilang. Selanjutnya kecuali bagian suara wanita kanonik, lagu ini cukup baik dinyanyikan. Bukan komposisi yang mudah untuk dinyanyikan memang.
Awalan yang sangat baik dari PS ini untuk lagu selanjutnya Hope, Faith, Life, Love. Lagu ini tidak putus dari lagu sebelumnya, tetapi kualitasnya sangat berbeda. Tiba-tiba overtone itu kembali terdengar. Bahkan sangat jelas terdengar. Nampaknya interval yang berdekatan dari lagu ini memperkuat bunyi overtone tersebut.
Hope… seperti tidak terlalu berharap. Tidak mengembang. Datar.
Faith… sangat indah mempesona
Life… komposisi yang luar biasa
Love… Harga ketukan terlalu pendek, namun bunyi yang dihasilkan luar biasa
Dream… misterius
Joy… Mengembang, terus mengembang, makin mengembang, terus, terus, sampai akhirnya voila! ITB Choir telah berhasil mengalahkan dirinya sendiri. Ia berhasil keluar dari kekurangannya. Terbukti. Penampilan live mereka luar biasa. Mereka berhasil mencapai puncak.
Truth… Aku hampir menangis mendengarnya. Tidak ada satu bunyipun yang cacat. Sempurna.
Soul… Sangat membuai. Begitu hangat. Hangat sampai di akhir lagu. Seharusnya aku berdiri untuk perjuangan mereka.
Love is beautiful. Love is wonderful. Love is warm. Love is magnificent. ITB Choir berhasil mengatakan maksud ini dengan luar biasa. Amor de Mi Alma (You are the Love of my Soul) oleh Z. Randall Strope. Lagu yang paling aku tunggu-tunggu di konser kali ini. Penghayatan yang kuat dari masing-masing penyanyi. Nampaknya semua orang yang berdiri di atas sana pernah merasakan cinta. Mereka tahu persis apa yang sedang mereka nyanyikan.
Namun aku sedikit terganggu dengan teknik yang mereka pakai pada lagu ini. Terutama Tenor yang terdengar sangat Pop. Lagu ini memang terdengar seperti lagu Pop, tapi lagu ini jauh sekali dari teknik Pop. Malahan lagu ini harus dinyanyikan dengan bunyi yang sangat ringing dan kualitas tinggi. Jika tidak, keindahan lagu ini akan sangat jauh berkurang. Sangat-sangat berkurang. Keindahan cinta itu bisa tertutup kalau salah menyanyikan. Ah, tidak seharusnya para penyanyi menelantarkan teknik bernyanyi mereka. Aku sedikit kecewa. Aku ingin sekali mendengar keindahan lagu ini lewat suara yang indah, Live. Aku hanya dapat sedikit. Pula aku tidak suka dengan keputusan dirijen untuk memberikan penegasan di puncak lagu bagian akhir. Aku malah jadi tidak merasakan puncak lagu tersebut dengan dibegitukan.
Tiba-tiba formasi berubah. Sangat aneh. Semua orang melepas buku. Mereka sudah hapal. Sang dirijen, terlihat makin semangat, membawa dua orang keluar bersamanya. Selintas kupikir mereka adalah penari, ternyata salah. Mereka adalah pemain alat musik tambahan. Salah satunya adalah alat musik tabuh. Mereka akan menyanyikan lagu Tres Cantos Nativos dos Indios Krao.
Mereka semua memulai menjentik-jentikan jarinya.
Heran! Bukankah seharusnya mereka bernyanyi?
Beberapa dari mereka menepuk-nepuk kedua paha dengan telapak tangan mereka masing-masing bergantian. Satu-persatu mengikuti, satu-persatu sampai akhirnya mereka semua melakukan itu.
Hey sebentar! Bunyi apakah itu? Itu terdengar seperti bunyi hujan. Wah, luar biasa.
Tiba-tiba. Duaaarrrr!!!
Persis seperti bunyi guntur. Mereka berhasil membuat suara guntur dengan mengadukan kaki mereka ke panggung. Benar-benar luar biasa. Sangat mengagumkan. Itu pasti sangat sulit. Butuh banyak sekali detail. Mereka berhasil menaklukan hal tersebut. Bukan skala nasional untuk paduan suara seperti ini.
Mereka mulai bernyanyi. Nyanyiannya sangat aneh. Sama sekali tidak menggunakan teknik yang benar. Tapi tunggu. Bunyi khas itu keluar. Akhirnya. Setelah sekian lama menunggu, suara khas dari ITB Choir keluar. Itu dia suara khas mereka. Sangat khas. Wah, rindu mendengarnya. Terakhir mendengarnya saat The 3rd Choir Games di Xiamen, China.
Gerakan yang penyanyi lakukan sangat efektif. Cukup membantu komposisi lagu. Tidak berlebihan.
Karimatanu Kuicha. Ko Matsushita. Lagu-lagu dari komposer Jepang ini memang selalu sangat rumit. Tidak mudah untuk mengerti maksud musikal dari Matsushita. Butuh waktu cukup lama untuk mengerti bentuk lagu ini. Nampaknya waktu tersebut masih kurang cukup untuk ITB Choir. Ditambah suara yang terdengar kelelahan, lagu ini seperti tidak berbentuk. Aku pikir, ini adalah penempatan lagu yang buruk. Mungkin seharusnya lagu ini tidak berada di urutan ini, tapi aku juga tidak bisa memberikan saran sebaiknya di mana lagu ini ditempatkan. Pemandangan terdapat beberapa orang menggunakan buku dan yang lainnya tidak ternyata cukup mengganggu.
Jokpiniana No.1. Lagu komposisi oleh pianis terkenal dalam negri, Ananda Sukarlan. Liriknya diambil dari puisi Joko Pinurbo, ditempatkan sebagai lagu andalan pada konser kali ini. Sangat aneh. Suara PS ini kembali jernih, kembali dengan teknik yang benar. Sepertinya mereka sudah hapal bahkan bukaan rongga untuk suarapun sepertinya dihapal oleh masing-masing orang di atas panggung. Amazing! Suara mereka kembali prima. Lagu ini pun berhasil dikalahkan mereka. Kecepatannya sedikit diturunkan memang, tetapi musik yang dihasilkan masih tetap terbentuk dengan baik. Agak aneh penghabisan dari lagu ini. Sangat gantung.
Beberapa evaluasi yang bisa aku simpulkan mengenai konser ITB Choir tahun ini:
-
Penggarapan lagu sangat mutakhir. Hampir semua dari musik lagu yang diinginkan terbentuk dengan baik. Efek-efek yang diinginkan dari lagu-lagu pun muncul dengan baik.
-
Suara utama pada masing-masing bagian dari masing-masing komposisi jelas terdengar. Suara yang berfungsi hanya sebagai pengiring dan atau pemberi efekpun sadar porsi, sehingga lagu jelas terdengar dan musik terbentuk.
-
Berbeda dengan konser sebelumnya yang didominasi oleh golongan suara Sopran, pada konser tahun ini, golongan suara yang lain mampu mengejar ketinggalan. Namun begitu golongan suara Tenor masih sering lepas kendali dalam bernyanyi dan golongan suara Alto hampir-hampir tidak mampu menunjukkan keindahan sepanjang konser.
-
Hampir semua bunyi yang dihasilkan oleh PS ini mengikuti PS lain. Terang saja, PS ini banyak mendengar Mp3 untuk membantu penggarapan lagu. Namun, sangat disayangkan kalau hal tersebut malah menghilangkan ke-khas-an dari PS ini. Bunyi yang dihasilkan PS ini sangat menarik. Merdu dan khas. Sebaiknya hal tersebut yang dikembangkan untuk menjadi menonjol di dunia Internasional.
-
Beberapa orang sudah mampu menunjukkan ekspresi dan gestur yang baik dalam bernyanyi. Namun masih ada juga yang sangat kaku. Sebaiknya diseimbangkan. Saling mengajari dan saling mendengar amatlah baik.
Untuk ukuran PS lokal memang ITB Choir bisa dibilang excellent. Namun, mengingat target Grand Prix tahun depan tentu saja hal ini masih jauh dari yang diharapkan. Yang perlu dilakukan adalah terus bekerja keras. Masing-masing pribadi perlu menggali tentang Paduan Suara itu sendiri apa. Harus banyak mendengar musik-musik paduan suara dan berlatih tiap hari sendiri. Tidak boleh puas. Harus mulai mengukur diri dengan mantan-mantan juara yang lain. Apa yang mereka bisa ITB Choir harus mampu juga melakukannya. Satu tahun, aku yakin ITB Choir mampu melakukannya.
Sahat Hutajulu
T. Elektro 2001 – Bass
Dirigen NHKBP Tanjung Priok Timur
(Sorry sebelumnya kelupaan Timur-nya)

Joy is my most favorite part
gw ngerasa pas bagian joy, mimik mas indra berubah jadi gmn gt, berasa lagi deeply in joyous love. mgkn itu yang bikin penyanyi jd mantep ngebawain bagian itu skaligus nganter (nyupport) k bagian truth. Di bagian joy itu gw ngerasa terharu atawa terenyuh ato apalah kata yang tepat. alunan nadanya berasa penuh cinta, sambil menetes air mata
(kiasan aj :p)
wah, sayang sekali gua kehilangan momment itu…
karena sibuk liat partitur dan juga karena memang mas indra ga bisa gua liat dengan jelas (alias seluruh badan)….akibat dari gua berdiri nun jauh dipojokan sana dengan sopran2 berukuran tubuh lebih tinggi di depan gua (kecuali cimol tentunya)…hahhahaha
ahahaha….
yoi, tampang mas indra oke banget pas bagian JOY…
aqu terharuuuuu…
(u,u)
trus pas lagu Amor de mi Alma aqu da ampir nangis lohh….
seriusnya aqu….
mas Indra ekspressivo pisan pas kata2 terakhir “por vos”
aqu terharuu……..
(u,u)
puas en enjoy banget deh di konser kmaren
puas juga bisa lumayan ngeganggu ka Alfie dgn berada di depannya…ahahahaha……xp
huayoooow…!!!
kapan kita nyanyi lagihhhhh…?!
aqu terharuuuuu…
(u,u)
Wah..wah ikutan senang tapi gua keukeuh ga mengalami semua itu
hmmm… mungkin karena ga bisa liat dirigen dengan jelas td jadi koneksi ama dirigen agak kurang, terbukti dgn gua melewatkan banyak sekali momment yang kau rasakan cimol (sayang sekali) jadinya efek merinding saat bernyanyi ga bisa gua rasain..hihihiii..
Tapi enak juga si ditaro dipojokan bisa nyanyi relaks, karena ga kena demam panggung …mau deman panggung gimana orang penonton aja ga bisa liat gua : )
iyah, gw ngalamin sesuatu yg tak biasa di panggung waktu bawain Hope…
naon nya? datangkah mata bathinnya whitacre saat itu? atw saat itu dia sedang memohon: tuhan, berikan keindahan buat itb choir yg saat ini sedang membawakan karyaku… hahaha
tapi emang lagu itu membuat mrindinx banget, apalagi pas ‘truth’…
ga sabar pengen liat rekamannya….
Mestinya judul konser diganti jadi ITB Choir In Love…
ato In BLue…..
ato In Purple, hehhee naon deui
oiya, yang manteb dari tulisan sahat menurut gw nih:
Sang dirijen membungkuk memberi hormat. Mukanya garang penuh misteri. Seakan-akan dia berkata: “ini belum semua, masih banyak lagi” (kya..kya..kya…->ketularan)
can’t you feel the drama??
(baru blajar nginggrish…hahahah)
tulisan sahatbo, yg brilian menurut gw ini:
“Joy… Mengembang, terus mengembang, makin mengembang, terus, terus, sampai akhirnya voila!… Mereka berhasil mencapai puncak”
kya kya kya… sang pelukis syair berhasil memaparkan atmosphere yg sedang terjadi. Brilliant!
salut dah buat bang sahat..
salut juga buat kita smuah…
anyway, bang sahat ngerekam konser kmaren scara ilegal ya!??! kok kayanya detil amat reviewnya… hihihihi
Sambil dengerin sambil nyatet-nyatet. Emang udah diniatin dari rumah begitu. Mesti masukin blog. Gitu. Hehe.
Semangat terus. Banyak banget tuh review yang lain. Dipelajari semua aja. Mesti perfectsionis dong, secara saingannya dahsyat.
………panjang ya bang…anw…gw suka bgt gaya mas indra conduct kmrn, kyanya bener2 lepas n menghayati bgt….
confession saya:
pas jokpin encore, ada saat dimana mas indra bener2 berhenti ngetuk dan senyum2..
pas dia melakukan hal itu, dang-dut gw berubah,”dHAng…dang..duut..”
karena seperberapanya gw ketawa.. huehehhe
lagian.. kami2 ini kan pemegang beatnya. ehh. malah ga diketuk. hehehe..
Pengen nangis bacanya… gw kangennnnn buangeettttt… sumpah!!!!
eeeh… kangen ama siapa juk? ga nyangka… hahaha
Gw rada kecewa sama komentar Sahat yg “golongan suara Alto hampir-hampir tidak mampu menunjukkan keindahan sepanjang konser”.. Rasanya hal ini kurang tepat karena secara pribadi menurut gw Alto sudah sangat meningkat, walaupun memang peningkatan itu belum menyeluruh di masing-masing personilnya.
Anyway, gw sangat menikmati konser kita ini teman-teman. Rasanya ada suatu keintiman yang terjalin antara kita, para penyanyi, dengan sang dirigen kya..kya..kya..
ITB Choir, gw bangga sama kalian. Ayo kita tingkatkan lagi apa yang sudah kita raih. Semangat !!!
jadi pingin dengerin dari sisi penonton….
kapan ya CD rekamannya ada? Pingin dengerin bukan dari posis penyanyi nih
ayo semangat altooo!!
komentar gua untuk lagu Hope: you can feel the spirit hampir sama seperti lagu Alleluia 1000kali nya Randall Thompson.
It begun when you was born, grown up in faith, lived in lovely-life, dreaming, reaping the joy, but then you must face the TRUTH in reality. It hurt a lot. Really. But the essence of that: you can feel your true soul.
Intinya, setelah nyanyi fortissisimo soul di G, serasa gua tinggal menghembuskan nafas terakhir untuk berterimakasih bahwa gua punya soul.
Padahal harusnya ga fff tuh. Di partiturnya cuman f, di semua rekaman yang ada juga cuman f.
Kemaren mah bisa-bisanya dirigen, ya Mas? Hehehe… Pas Mas Indra mulai naikin soul yang pertama, dari ekspresivonya beliau gue udah ngira, wah ini bakal ditarik sampe fff nih, ga seperti biasanya di latihan. Memang lebih oke kedengerannya sih, lebih kontras…
Cuman jadi pikir2 mau dikirim ke Kang Eric. Ada 2 kemungkinan kan: “Lho kok jadi ngini?” atau malah “Wah kayaknya perlu dirubah nih partitur gue…” Hehe… Kebanyakan ngayal…
Kyakyakya…
Ira, kayaknya Sahat musti dengerin rekaman tahun lalu dulu, baru komentar soal alto…
hahahahaha..
sopran bagaikan kecekik?
memang, wuuaaaakakakakakaka
udah pasrah itu mah..
jangan2 saya termasuk sopran2 perusak suara hahahahaha…
ck ah koq tidak ada yang membahas mengenai lirik jokpiniana yang “unik” itu yah? hehehehe…
wk wk wk wk berkat ekspresi pak Indra Listiyanto saya jadi semakin sakit perut sesudah konser hahahaha perut terasa tegang menyanyi sampe ffff hahahahaha…
senang kita sudah melewatinya, senang ada kak Kya,
hahahaha
rasanya lega..
Lha, assattari bukannya alto ya? pputtu assattari kan?? hehehe….
sialll….
masalahnya nama wordpress gua disini tuh assattari, nama itbchoir gw ASTRI Desain Komunikasi Visual 2005, puas??
wk wk wk wk wk…
Assattari (Astri) DKV-ITB 05
buat Astri yang tadinya gua juga kira Assatttarrii (hehehe) :
senangnya bisa buat temen senang
senangnya bisa nyanyi bareng Astri
senangnya bisa belajar banyak sama-sama
senangnya…oh…senangnya…kya…kya…
Udah denger kalee rekaman taon lalu. Makanya berani ngomong.
buat kak -kia yang kurasa memang kak Kya owhohohooho
senangnya bisa bareng-bareng kak Kia
owh Kya kyaa kak Kia kya kyaa~~
apeseh ini